Fiqih Islam "Waktu yang diharamkan Sholat" kitab Sabilal Muhtadin
Tengku Aceh SNA - segala Puji bagi Allah SWT Sholawat dan Salam selalu tercurah kepada Rasulullah Saw dan Ahlul bait dan seluruh sahabat beliau Sekalian, Pada kesempatan ini mari kita mengkaji satu kitab kuning Melayu bernama Sabilal Muhtadin yang isi nya adalah membahas hukum fiqih Islam dan kitab tersebut adalah karangan Ulama Nusantara ditulis oleh Kiyai Imam Al-alamah syekh Muhammad Arsyad Bin Abdullah Al-Banjari semoga Rahmat Allah SWT selalu tercurah kepada beliau Aminn...!
Adapun yang akan kita kaji dan bahas dalam kesempatan ini adalah Satu fasal di dalam kitab kuning Melayu tersebut di halaman 159 yaitu Percetakan Haramain Indonesia,dalam fasal ini akan dijelaskan tentang waktu-waktu yang di haramkan melakukan sholat,dan saya akan menulis Tek asli fasal itu dalam bahasa Indonesia hanya menterjemahkan dalam kata-kata asli demi menjaga keasliannya.
( فصل) Pada menyatakan segala waktu yang ditegahkan ( dilarang ) sembahyang didalamnya dengan tegah tahrim ( larangan haram)
Bermula haram sembahyang lagi tiada sah ia pada lima waktu yang dinamai waktu kirahah tahrim,
( Pertama ) waktu terbit matahari hingga naik ia qadar segalah (tombak) maka haram atas seseorang sembahyang pada ketika itu sama ada ia telah memperbuat sembahyang subuh atau tiada,
( Kedua ) Waktu Rembang matahari hingga gelincir matahari ia dan adalah waktu Rembang itu sangat picik tiada meluluskan ia daripada sembahyang melainkan ia takbiratul ihram jua, maka jika takbiratul ihram seseorang pada ketika itu haramlah ia atasnya lagi tiada sah sembahyang nya melainkan Rembang pada hari Jum'at,Maka tiada haram atasnya sembahyang pada ketika itu dan jika tiada ia hadir akan Jum'at sekalipun,
( Ketiga ) waktu kuning matahari hingga masuk ia haramlah atas seseorang sembahyang pada ketika itu sama ada ia telah memperbuat sembahyang 'asar atau tiada.
( Ke empat ) kemudian daripada Sembahyang Subuh Tunai hingga terbit matahari maka haram sembahyang pada ketika itu atas yang telah memperbuat sembahyang subuh jua tiada yang lainnya maka tiada haram ia dahulu daripada memperbuat dia.
( Kelima ) kemudian daripada Sembahyang 'Asar tunai hingga kuning matahari maka haram sembahyang pada ketika itu atas yang ( telah) memperbuat sembahyang Asar jua tiada lainnya maka tiada haram ia dahulu daripada memperbuat dia .
Maka diketahui dari pada yang tersebut itu bahwasanya kirahah tahrim itu takluk ia dengan zaman pada tiga waktu yang pertama dan takluk ia dengan fi'il ( perbuatan ) pada dua waktu yang kemudian maka dua waktu yang kemudian ini luas ia bagi orang yang memperbuat ia akan sembahyang subuh dan asar pada awal waktunya dan picik ia bagi orang yang memperbuat ia akan dia pada akhir waktunya.
Adapun sembahyang yang diharamkan didalam segala waktu yang lima itu yaitu sembahyang yang tiada baginya sebab yaitu sembahyang sunat Mutlak dan sembahyang tasbih atau ada baginya sebab yang terkemudian daripada nya seperti sembahyang sunat ihram dan istikharah yang diperbuat ia pada tempat yang lain daripada tanah haram Mekkah,
Adapun sembahyang yang ada baginya sebab yang terdahulu dari padanya atau yang beserta ia dengan dia seperti sembahyang kadha fardhu atau sunat dan sembahyang jenazah dan sembahyang karena minta hujan dan sembahyang gerhana dan sembahyang nazar dan sembahyang hari raya dan sembahyang Dhuha dan sembahyang sunat tawaf dan sunat wudhu dan sembahyang tahyat mesjid dan sujud syukur dan sujud tilawah maka tiada diharamkan sekalian yang tersebut itu didalam segala waktu yang lima itu karena tersebut dalam hadist ( imam ) Bukhari dan Muslim bahwasanya Nabi ( Muhammad ) SAW luput akan dia sembahyang sunat Zuhur yang kemudian maka dikadhanya akan dia kemudian daripada Sembahyang Asar dan ijmak sekalian Ulama atas harus sembahyang jenazah kemudian daripada Sembahyang Subuh dan Asar dikiyaskan dengan dia sembahyang yang lain daripada nya dan ditanggungkan akan tegah pada barang yang disebut kan itu atas sembahyang yang tiada baginya sebab atau ada baginya sebab yang terkemudian daripada nya.
Akan tetapi jika di sahajanya mentakkhirkan sembahyang kadha kepada segala waktu ( yang lima ) itu supaya dikhadanya akan dia didalamnya atau ( disahajanya) masuk ia kedalam mesjid dalam waktu itu ( serta ) dengan kasad ( berkeinginan ) tahyat mesjid jua maka hanyalah, maka yaitu haram ( hukumnya ) dan lagi tiada sah sembahyang nya.
Adapun Tanah Haram Mekkah sama ada masjidil haram atau lainya maka tiada haram dalam nya memperbuat sekalian yang tersebut itu didalam segala waktu itu karena Sabda nabi Muhammad Saw :
يا بنى عبد مناف لا تمنعوا احدا طاف بهذا البيت و صلى اية ساعة شاء من ليل او نهار
--------------------------------------------
"Artinya : hai sekalian anak Abdu Manaf jangan kamu tegahkan akan seseorang yang tawaf ia dengan Baitul Allah ini dan yang sembahyang ia pada barang sa'ah ( waktu ) yang dikehendakinya dari pada malam atau siang " telah meriwayatkan Akan dia Imam Turmudzi dan lainnya.
Bermula yang dikehendaki dengan terkemudian atau terdahulu atau beserta sebab itu dengan Dengan nisbah kepada Sembahyang jua inilah muktamat ( Pendapat Kuat ) syekh Ibnu Hajar dan Syekh Ramli di dalam ( Kitab ) tuhfah dan Nihayah karena mengikuti bagi yang tersebut di dalam ( kitab ) majemuk ( karangan imam An-Nawawi )
Tiada nisbah kepada waktu kirahah (tahrim) seperti yang tersebut di dalam ( kitab ) Raudhah.
Maka sembahlah jenazah sebabnya "mensucikan mayit" dan sembahyang kadha sebabnya " ingat akan Sembahyang yang lupa " dan sembahyang minta hujan sebabnya " qahthi ( kemarau ) dan sembahyang gerhana sebabnya "Gerhana ' dan sembahyang Nazar sebabnya "Nazar" dan sembahyang ( sunat ) Tawaf sebabnya "Tawaf " dan sembahyang tahyat mesjid sebabnya " Masuk kedalam mesjid " dan sembahyang sunat wudhu sebabnya "Wudhu" maka sekalian sebab sembahyang yang tersebut itu terdahulu ia,( ini hukum ) atas Qaulun ( Pendapat ) yang pertama yang muktamat dan atas Qaulun yang kedua jika terdahulu ia ( sebab ) dari pada waktu Kirahah (tahrim) maka yaitu ( disebutkan) sebab terdahulu dan jika tiada maka yaitu sebab yang beserta.
والله اعلم بالصواب

Komentar
Posting Komentar