Pasal ke 2 - Sifat-Sifat Sembahyang

 بسم الله الرحمن الرحيم

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله و صحبه و سلم

( باب صفات الصلاة )

( Adapun ) sembahyang Sunnat yang berwaktu seperti sunnat Rawatib yang dahulu dari pada fardhu ( Qabliyah ) dan yang kemudian dari padanya ( ba'diyah ) dan Sunnat witir dan Sunnat Dhuha dan Sunnat hari Raya kedua, dan sembahyang sunnat yang bersebab seperti sembahyang gerhana bulan dan gerhana matahari dan Sunnat istisqa' maka wajib didalam takbirnya dua perkara,

( Pertama ) قصد فعل الصلاة artinya menyehaja memperbuat sembahyang, ( kedua ) تعيين artinya menentukan waktunya pada ( sembahyang ) sunnat yang berwaktu atau menentukan sebabnya pada ( sembahyang ) sunnat yang bersebab,dan tiada wajib pada sembahyang sunnat itu meniatkan نفليه ( Sunnat ) pada Qaulun ( pendapat ) yang Shahih karena bahwasanya نفلية itu lazim baginya.

Dan hasil تعيين itu ada kalanya dengan barang yang masyhur ia dengan dia seperti Tarawih dan Dhuha dan witir dan adakalanya dengan idhafah ( sebuah Sandaran ) seperti ku perbuat sembahyang hari raya fitrah atau ku perbuat sembahyang hari raya Qurban dan tiada memadai ( berniat seperti ini ) ku perbuat sembahyang hari raya ( saja ) Karena tiada hasil تعيين ( penentuan ) sebab ketiadaan idhafah, 

( Hasil Takyin pula ) seperti aku perbuat sembahyang gerhana bulan atau aku perbuat sembahyang gerhana matahari, maka tidak memadai berniat seperti aku perbuat sembahyang gerhana saja karena ketiadaan Takyin,

Dan ( hasil Takyin dalam niat sembahyang sunnat ) seperti aku perbuat sembahyang sunnat zhuhur yang terdahulu ( Qabliyah ) atau aku perbuat sembahyang sunnat zhuhur yang kemudian ( Ba'diyah ),

dan tiada memadai seperti aku perbuat sembahyang sunnat zhuhur saja karena ketiadaan Takyin dengan Qabliyah dan Ba'diyah sama ada di diakhirkan sunnat yang terdahulu ( Qabliyah ) daripada fardhu kepada barang yang kemudian dari padanya atau didahulukannya sunnat yang kemudian ( ba'diyah ) kepada barang yang terdahulu dari padanya,inilah pendapat mu'tamat Syekh Ibnu Hajar didalam kitab Tuhfah dan Syarah Mukhtasar serta muwafakat bagi Syekh Kahtib Syarbaini dan Syekh Muhammad Ramliy didalam kitab Muhkniy dan Nihayah ,

maka bersalahan ( beda pendapat ) bagi Syekh Asnawi katanya : tiada wajah ( dalil ) bagi mensyaratkan ( tidak boleh tidak berniat ) Qabliyah apabila didahulukannya mengerjakan sembahyang Sunnat Qabliyah itu daripada sembahyang fardhu.

( Maksud perkataan diatas adalah : menurut Pendapat Imam Asnawi bahwa tidak wajib Niat Qabliyah dalam takbirnya saat melaksanakan Sembahyang Sunnat Qabliyah bila dilakukan pada waktunya yaitu saat sebelum melakukan sembahyang fardhu, dan terfahami pula : bila Qabliyah tidak sempat dilaksanakan sebelum sembahyang fardhu maka bila laksanakan setelah sembahyang fardhu maka wajib berniat Qabliyah dalam takbirnya,sekian ).

Dan seperti sunnat zhuhur Jum'at dan Sunnat 'isya dan Sunnat magrib maka tidak boleh tidak dari pada mentakyinkan dia dengan Qabliyah atau Ba'diyah bersalahan ( berbeda ) dengan Sembahyang Sunnat fardhu 'Ashar dan Subuh maka tiada berkehendak ia kepada meniatkannya ( Qabliyah ) karena tiada bagi fardhu Subuh dan 'Ashar itu Sunnah yang kemudian dari padanya ( yaitu tidak ada sembahyang sunnat ba'diyah ).

( Adapun ) sembahyang Sunnat مطلق ( mutlak ) maka wajib didalam takbirnya satu jua yaitu Qasad memperbuat sembahyang maka tiada wajib padanya meniatkan نفلية ( sunnat ) dan tiada wajib Takyin karena tiada ada ia berwaktu dan bersebab,

( Dan istisnakan ) pengecualian daripada sembahyang sunnat yang bersebab itu tiap-tiap sembahyang sunnat yang masuk ia kepada yang lainnya dan memadai akan dia dengan memperbuat sembahyang yang lain dari padanya seperti sembahyang sunnat tahyat masjid dan Sunnah wudhu dan Sunnat Ihram dan Sunnat Thawaf dan Sunnat istikharah maka yaitu dihubungkan ia dengan Sembahyang Sunnat Mutlak,

Maka tiada wajib didalam takbirnya kecuali Qasab memperbuat sembahyang jua dan tiada wajib Takyin dan jika ada ia bersebab sekalipun tetapi ini dengan Nisbah ( dengan tinjauan dari segi ) bagi menggugurkan tuntutan jua adapun dengan Nisbah bagi mendapatkan Fahala maka tidak boleh tidak pada takbirnya itu daripada Takyin sebabnya , Inilah pendapat mu'tamat Syekh Ibnu Hajar didalam kitab Tuhfah dan Syarah Mukhtasar, bersalahan Pendapat bagi imam Syekh Ramli dalam kitab Nihayah .

( Dan kesimpulan ) Perkataan Syekh Tha-ifiy dalam حاشية bahwa Sanya tiada hasil Fahala dengan semata-mata Takyin kecuali tidak boleh tidak sertanya daripada niat امتثال ( junjung tinggi ) bagi suruh شارع .

Dan di Sunnatkan Pada tiap-tiap melakukan sembahyang Sunnat itu berniat نفلية ( sunnat ) supaya keluar dari pada Khilaf Ulama yang mewajibkan dia.

والله اعلم بالصواب 

Referensi : diterjemahkan dari Kitab Kuning Melayu kontemporer yaitu Sabilil Muhtadin 

( سبيل المهتدين )

Karangan Al-alim wal Alamah Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah negri Al-Banjariy ( Tanah Banjar )


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelebihan & Fahala Orang Muslim Mati Malam Jum'at

Menolak Poligami dosa kah? Ini Jawabannya yang termaktub dalam kitab kuning Melayu klasik

NASIB ANAK KECIL YANG TELAH WAFAT DIKALA KIAMAT DAN MENOLONG ORANG TUA MEREKA